Penerapan model lesson study dalam meningkatkan kualitas profesional kinerja guru pada materi biologi kelas X di sman 7 kota cirebon


download 172.24 Kb.
jenengPenerapan model lesson study dalam meningkatkan kualitas profesional kinerja guru pada materi biologi kelas X di sman 7 kota cirebon
Kaca1/4
KoleksiLesson
t.kabeh-ngerti.com > Astronomi > Lesson
  1   2   3   4
PROPOSAL

PENELITIAN TINDAKAN KELAS
PENERAPAN MODEL LESSON STUDY DALAM MENINGKATKAN KUALITAS PROFESIONAL KINERJA GURU PADA MATERI BIOLOGI KELAS X DI SMAN 7 KOTA CIREBON



ELTRA CYTA OCKTORA

NIM.59461264

TADRIS IPA BIOLOGI

KEMENTERIAN AGAMA REPUBLIK INDONESIA

INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI (IAIN)

SYEKH NURJATI CIREBON

2012

BAB I

PENDAHULUAN

  1. Latar Belakang

Para guru di Indonesia menyadari bahwa jabatan guru adalah suatiu profesi yang terhormat dan mulia. Guru mengabdikan diri dan berbakti untuk mencerdaskan kehidupan anak bangsa dan meningkatkan kualitas manusia Indonesia seutuhnya, yaitu : yang beriman, bertakwa dan berakhlak mulia serta menguasai IPTEK Dalam mewujudkan masyarajat yang berkualitas. Setiap guru boleh saja memandang dirinya professional, profesionalisme dalam pendidikan mengandung arti guru haruslah orang yang memiliki interest menjadi guru , paling tida mengerti dan memahami tentang minat, bakat dan tugas perkembangan siswa. Guru harus memiliki sikap integritas professional. Dengan integritas itulah, guru menjadi teladan dan inspirasi bagi siswanya.

Belajar pada hakekatnya adalah proses interaksi terhadap semua situasi yang ada disekitar. Belajar dapat dipandang sebagai proses yang diarahkan kepada tujuan dan proses berbuat melalui berbagai pengalaman. Belajar juga merupakan proses melihat, mengamati dan memahami sesuatu.

Kegiatan pembelajaran, dalam implementasinya mengenal banyak istilah untuk menggambarkan cara mengajar yang akan dilakukan oleh guru. Saat ini begitu banyak macam model, strategi ataupun metode pembelajaran yang bertujuan untuk meningkatkan kualitas pembelajaran menjadi lebih baik. Strategi menurut Kemp (1995) dalam Rusman (2011 : 138) mengatakan bahwa strategi adalah suatu kegiatan pembelajaran yang harus dikerjakan guru dan siswa agar tujuan pembelajaran dapat dicapai secara efektif dan efisien.

Model Pembelajaran menurut Joyce & Weil ( 1980 : 1) dalam Rusman (2011 : 139) mengatakan bahwa model pembelajaran adalah suatu rencana atau pola yang dapat digunakan untuk membentuk kurikulum (rencana pembelajaran jangka panjang), merancang bahan-bahan pembelajaran, dan membimbing pembelajaran dikelas atau yang lain.

Belajar adalah suatu proses perubahan tingkah laku individu sebagai hasil dari pengalamannya dalam berinteraksi dengan lingkungannya. Belajar bukan hanya sekedar menghapal, melainkan suatu proses mental yang terjadi dalam diri seseorang. Baik interaksi secara langsung seperti kegiatan tatap muka maupun secara tidak langsung, yaitu dengan menggunakan berbagai media pembelajaran. Pembelajaran yang efektif berlangsung dalam suatu proses yang berkesinambungan, terarah berdasarkan perencanaan yang matang.

Kegiatan belajar dan mengajar merupakan kegiatan paling pokok dalam keseluruhan proses pendidikan. Dalam memecahkan permasalahan dalam pendidikan seiring dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi perlu menciptakan dan mengembangkan model pembelajaran yang dapat meningkatkan kualitas pembelajaran. Salah satu model yang telah dikembangkan adalah model Lesson Study dalam pembelajaran biologi. Lesson Study merupakan salah satu upaya pembinaan untuk meningkatkan suatu proses pembelajaran yang dilakukan oleh sekelompok guru secara kolaboratif dan berkesinambungan, dalam merencanakan, melaksanakan, mengobservasi dan melaporkan hasil refleksi kegiatan pembelajaran. (Rusman, 2011 : 410).

Adapun tujuan dari Lesson Study menurut Bill Cerbin & Bryan Koop dalam Rusman ( 2011 : 411) mengatakan bahwa Lesson Study adalah untuk: (1) memperoleh pemahaman yang lebih baik tentang bagaimana siswa belajar dan guru mengajar; (2) memperoleh hasil-hasil tertentu yang bermanfaat bagi para guru lainnya dalam melaksanakan pembelajaran; (3) meningkatkan pembelajaran secara sistematis melalu inkuairi kolaboratif; (4) membantu sebuah pengetahuaan pedagogis, dimana seorang guru dapat menimba pengetahuan dari guru lainnya.
Lesson Study. Merupakan salah satu alternative guna dalam mengatasi masalah praktik pembelajaran yang selama ini dipandang kurang efektif. Seperti kita semua ketahui, bahwa sudah sejak lama dilakukan secaera konvensional yaitu melalui teknik komunikasi verbal symbol. Praktik pembelajaran konvensional semacam ini lebih cenderung memposisikan guru sebagai trasnformator yaitu menyampaikan informasi kepada siswa secara one way communication dan menekankan pada guru sebagai satu-satunya sumber informasi daripada bagaimana siswa belajar.

Sejalan dengan uraian diatas, dalam penelitrian tindakan kelas ini penulis mengambil judul : Penerapan Model Lesson Study Dalam Meningkatkan kualitas profesional kinerja guru Pada Materi Biologi Kelas X Di SMAN 7 Kota Cirebon.


  1. Rumusan Masalah

  1. Bagaimana penerapan model Lesson Study dalam meningkatkan kualitas profesional kinerja guru ?

  2. Seberapa besar peningkatan kualitas profesional kinerja guru melalui penerapan model Lesson Study ?

  3. Bagaimana pengaruh kualitas profesional kinerja guru terhadap penerapan model Lesson Study ?




  1. Tujuan Penelitian

  1. Untuk mengkaji penerapan model Lesson Study dalam meningkatkan kualitasrofesional kinerja guru.

  2. Untuk mengkaji peningkatan kualitas profesional kinerja guru melalui penerapan model Lesson Study.

  3. Untuk mengetahui pengaruh kualitas profesi kinerja guru terhadap penerapan model Lesson Study.




  1. Manfaat Penelitian

  1. Guru dapat mendokumentasikan kemajuan kinerjanya.

  2. Guru dapat memperoleh feedback dari teman sejawatnya.

  3. Guru dapat mempublikasikan dan menyebarluaskan hasil akhir dari Lesson Study yang telah dilakukannya.

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

  1. Landasan Teori

  1. Pengertian Model Lesson Study

Lesson Study merupakan model pembinaan profesi pendidik melalui pengkajian pembelajaran secara kolaboratif dan berkelanjutan berdasarkan prinsip-prinsip kolegalitas dan matual learning, serta membangun learning community. Harus diakui, Lesson Study model terbaru dalam pengembngan kegiatan pembelajaran. Oleh karena itu, diperlukan upaya sosialisasi secara serius dan berkelanjutan agar model tersebut bias diterapkan oleh para guru disekolah.

Mulyana (2007) dalam Rusman (2011 : 410), mengatakan bahwa rumusan tentang Lesson Study sebagai salah satu model pembinaan profesi pendidik melalui pengkajian pembelajaran secara kolkaboratif dan berkelanjutan berdasarkan prinsip-prinsip kolegalitas dan matual learning untuk membangun komunitas belajar.

Berkenaan dengan Lesson Study Catherin Lewis (2002) dalam Rusman (2011 : 411) menyatakan bahwa :

Lesson study is a simple idea. If you want to improve instruction, what could be more obvious that collaborating with fellow teacher to plan, obseve, and reflect on lessons? While it may be a simple idea, lesson study is a complex process, supported by collaborative goal setting, careful data collection on student learning, and protocols the enable productive discussion of difficult issues”.

Jadi jelas bahwa lesson study adalah suatu model pembinaan profesi pendidik melalui pengkajian pembelajaran secara kolaboratif dan berkelanjutan berlandaskan prinsip-prinsip kolegalitas dan mutual learning untuk membangun learning community. Dengan demikian, lesson study bukan strategi atau metode pembelajaran tetapi kegiatan lesson study dapat menerapka berbagai strategi dan metoda pembelajaran yang sesuai dengan situsasi, kondisi, dan permasalahan yang dihadapi guru pada setiap satuan pendidikan masing-masing. Keutamaan dari Lesson Study yaitu dapat meningkatkan keterampilan atau kecakapan dalam melakukan kegiatan pembelajaran yang dilakukan oleh gurumelalui kegiatan lesson study, yakni belajar dari suatu pembelajaran. (Rusman, 2011 : 419).


  1. Tahap-Tahap Pelaksanaan Model Lesson Study

Merujuk pada pemikiran mulyana (2007) dan konsep Plan-Do-Check-Act Wikipedia (2007) dalam Rusman (2011 :423-426) Menguraikan bahwa secara ringkas empat tahap dalam penyelenggaraan Lesson Study, Diantaranya :

  1. Tahap Perencanaan (Paln)

Pada tahap ini, para guru yang tergabung dalam lesson study berkolaborasi untuk menyusun RPP yang mencerminkan pembelajaran yang berpusat pada siswa. Perencanaan diawali dengan kegiatan menganalisis kebutuhan dan permasalahan yang dihadapi dalam pembelajaran, seperti tentang : kompetensi dasar, cara membelajarkan siswa, mensiasati kekurangan fasilitas, media, sarana belajar dan lain-lain.

  1. Tahap Pelaksanaan (Do)

Pada tahap ini terdapat dua kegiatan utama yaitu : (1) kegiatan pelaksanaan pembelajaran yang dilakukan oleh salah satu seorang guru yang disepakati untuk memperaktikan perencanaan pembelajaran yang telah disusun bersama, dan (2) kegiatan pengamatan atau observasi yang dilakukan oleh anggota atau komunitas Lesson Study yang lain.

Beberapa yang harus diperhatikan dalam tahapan pelaksanaan diantranya :

  1. Guru melaksanakan pembelajaran sesuai RPP yang telah disuse bersama.

  2. Siswa diupayakan dapat menjalani proses pembelajaran dalam setting yang wajar dan natural.

  3. Selama kegiatan pembelaharan berlangsung, pengamat tidak diperbolehkan menggangu jalannya pembelajaran dan menggangu konsentrasi guru ataupun siswa.

  4. Pengamat melakukan pengamatan secara teliti terhadap interkasi siswa-siswa, siswa-bahan ajar, siswa-guru, siswa-lingkungan, dengan menggunakan instrument pengamatan yang telah disiapkan sebelumnya dan disusun bersama-sama.

  5. Pengamat harus dapat belajar dari pembelajaran yang berlangsung dan bukan untuk mengevaluasi guru.

  6. Pengamat harus dapat melakukan perekaman melalui video camera atau camera digital untuk keperluan dokumentasi dan bahan analisis lebih lanjut dan kegiatan perekaman tidak mengganggu jalannya proses pembelajaran.

  7. Pengamatan melakukan pencatatan tentang prilaku belajar siswa selama proses pembelajaran berlangsung.

  1. Tahap Refleksi (Check)

Tahap ini merupakan tahap yang sangat penting karena upaya perbaikan proses pembelajaran selanjutnya akan bergantung dari ketajaman analisis para peserta berdasarkan pengamatan terhadap pelaksanaan pembelajaran yang telah dilaksanakan. Selanjutnya, semua pengamat menyampaikan tanggapan atau saran secara bijak terhadap proses pembelajaran yang telah dilakukan. Dalam menyampaikan saran-sarnnya pengamat harus didukung oleh bukti-bukti yang diperoleh dari hasil pengamatan, tidak berdasarkan opininya.

  1. Tahap Tindak Lanjut (Act)

Dari hasil refleksi dapat diperoleh sejumlah pengetahuan baru atau keputusan-keputusan penting guna perbaikan dan peningkaytan proses pembelajaran, baik pada tataran individual, maupun menejerial.


  1. Pelaksanaan Lesson Study

Dalam setiap langkah dari kegiatan lesson study tersebut, guru memperoleh kesempatannya untuk melakukan identifikasi masalah pembelajaran, mengkaji pengalaman pembeljaran yang biasa dilakukan, memilih alternative model yang akan digunakan, merancang rencana pembelajaran, mengkaji kelebihan dan kekurangan alternative model pembelajaran yang dipilih, melaksanakan pembelajaran dan hasil pembelajaran lainnya. (Rusman, 2010 : 429)


  1. Tindak Lanjut Lesson Study

Kegiatan Lesson Study pada dasarnya merupakan suatu kegiatan yang mampu mendorong terbentuknya sebuah komubitas belajar yang secara konsisten melakukan continuous improvement baik pada level individu, kelompok, maupun pada system yang lebih umum. Pengetahuan umum yang dibangun melalui lesson study dapat menjadi modal sangat berharga untuk meningkatka kualitas kinerja masing-masing pihak.


  1. Pengertian Profesi Guru

Menurut Amitai Etzioni (1969 : 89) dalam Rusman (2010 : 20) mengatakan bahwa guru adalah jabatan semiprofesional karena :

...The training (of teacher) is shorters, their status less legitmated (low or moderate), their right to privileged communication les established; there is less of a specialized knowledge, and they have less autonomy from supervision or societal control than the professions...”

Guru harus dilihat sebagai profesi yang baru muncul, dank arena itulah mempunyai status yang lebih tinggi dari jabatan semiprofesional, malahan mendekati jabatan profesi penuh. Demikian juga menurut Jarvis (1983) dalam Yamin, M (2006 : 20) mengartikan bahwa seseorang yang melakukan tugas profesi juga sebagai seorang yang ahli (expert).

Berbagai pengertian profesi diatas menimbulkan makna, bahwa profesi yang disandang oleh tenaga kependidikan atau guru, adalah suatu pekerjaan yang membutuhkan pengetahuan, keterampilan, kemampuan, keahlian dan ketelatenan untuk menciptakan anak memiliki prilaku sesuai yang diharapkan. (Yamin, M. 2006 : 20)


  1. Profesionalisasi dalam Pendidikan

Secara konseptual, unjuk kerja guru menurut Depdikbud dan Johson (1980)(dalam Sanusi, 1991 : 36) dalam Yamin (2006 : 21-22) mengatakan bahwa secara konseptual unjuk kerja guru mencakup 3 aspek, yaitu Kemampuan Profesional, Kemampuan Sosial, dan Kemampuan Personal. Kemudian ketiga aspek tersebut dijabarkan menjadi :

  1. Kemampuan Profesional mencakup :

  1. Penguasaan materi pembelajaran

  2. Penguasaan dan penghayatan atas landasan dan wawasan kependidikan dan keguruan.

  3. Penguasaan proses-proses kependidikan.

  1. Kemampuan social mencakup kemampuan untuk menyesuaikan diri kepada tuntutan kerja dan lingkungan sekitar pada waktu membawa tugasnya sebagai guru.

  2. Kemampuan personal mencakup :

  1. Penampilan sikap yang positif terhadap keseluruhan tugasnya sebagai guru dan keseluruhan situasi pendidikan.

  2. Pemahaman, Penghayatan, dan Penampilan nilai-nilai yang dianut oleh seorang guru.

  3. Penampilan upaya untuk menjadikan dirinya sebagai panutan dan teladan bagi para siswanya.




  1. Syarat-Syarat Profesi guru

Menurut Rusman (2010 : 25) Dari penjelasan diatas, dapat dikemukakan bahwa guru dianggap sebagai suatu profesi bilamana ia memiliki pernyataan dasar, keterampilan, tekhnik, serta didukung oleh sikap kepribadian yang mantap. Dengan demikian, berarti guru yang professional harus memiliki kompetensi berikut :

  1. Kompetensi Profesional, artinya ia memiliki pengetahuan yang luas serta dalam bidang studyyang akan diajarkan serta penguasaan metodologis dalam artia mampu menggunakan metode dalam proses belajar mengajar.

  2. Kemampuan Personal, artinya memiliki kepribadian yang baik, sehingga mampu menjadi sumber identifikasi bagi subject. Dengan kata lain, dapat menjadi panutan bagi semua orang.

  3. Kompetensi Sosial, artinya ia menunjukan kemampuan berkomunikasi social.

  4. Kemampuan untuk memberikan pelayanan yang sebaik-baiknya, yang berarti mengutamakan nilai kemanusiaan daripada nilai benda material.




  1. Ciri-Ciri Profesi Guru

Menurut Robbert W. Richey (1974) dalam Rusman (2010 : 27), Ciri-ciri profesionalisasi jabatan seorang guru adalah sebagai berikut :

  1. Guru akan bekerja hanya semata-matamemberikan pelayanan kemanusiaan daripada usaha untuk kepentingan pribadi

  2. Guru dituntut memiliki pemahaman serta keterampilan yang tinggi.

  3. Guru dalam organisasi professional, memiliki publikasi professional yang dapat melayani para guru, sehingga tidak akan ketinggalan informasi.

  4. Guru memiliki nilai dan etika yang berfungsi secara nasional maupun secara local.

  1   2   3   4

Share ing jaringan sosial


Similar:

Secara umum kinerja adalah tingkat pencapaian hasil atas pelaksanaan...

Abstrak pegawai Negeri Sipil berkedudukan sebagai unsur aparatur...

Mahasiswa fkm undip Semester V kelas a 2012

Menurut Amitai Etzioni (1969: 89) guru adalah jabatan semi professional karena

Rincian Materi Perkuliahan Tiap Pertemuan

Rincian Materi Perkuliahan Tiap Pertemuan

Etika profesi sangatlah dibutuhkan dalam berbagai bidang khususnya...

Pada masa Orde Baru sampai menjelang masa transisi tahun 1998, kondisi...

Pada zaman sekarang ini administrasi bukanlah hal yang baru bagi...

Dalam gerakan demokrasi di indonesia dan pengaruhnya terhadap kalangan nahdliyin di samarinda

Tengen


Nalika Nyalin materi nyedhiyani link © 2000-2017
kontak
t.kabeh-ngerti.com
.. Home